Seorang bijak berkata, “berhentilah berusaha merubah orang lain, maka semua orang akan terasa menjadi saudara”. Nah, pembaca yg budiman, kebiasaan kita utk selalu berfokus pada kekurangan orang lain, menilai kekurangan dan kelebihan mereka dari sudut kriteria kita sendiri, sering merupakan racun yg terus menerus akan semakin menjauhkan diri kita dari harmoni dan dari kebahagiaan hidup, kisah berikut ini sangat indah dan sangat kuat menginspirasikan hal ini.
Dikisahkan seorang wanita baru menikah dengan pria yg dicintai dan tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Tidak lama setelah mereka berumah tangga, sangat terasa banyak ketidakcocokan diantara menantu dan sang mertua, hampir setiap hari terdengar kritikan dan omelan dari ibu mertua, percecokan pun sering terjadi apalagi sang suami tidak mampu berbuat banyak atas sikap ibunya.
Saat sang menantu merasa tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi buruk ibu mertuanya diapun akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu demi melampiaskan sakit hati dan kebenciannya. Pergilah si menantu menemui teman baik ayahnya, seorang penjual obat ramuan tradisional, wanita itu menceritakan kisah sedih dan sakit hatinya dan agar dapat diberikan bubuk beracun untuk membunuh ibu mertuanya. Setelah berfikir sejenak, dengan senyumnya yg bijak si paman menyatakan kesanggupannya untuk membantu tetapi dengan syarat yg harus dipatuhi si menantu. Sambil memberi sekantong bubuk ramuan yg dibuatnya sang paman berpesan, “Nak, untuk menyingkirkan mertuamu, jangan memberi racun yg bereaksi cepat agar orang-orang tidak akan curiga karena itu saya memberimu ramuan yg secara perlahan akan meracuni ibu mertuamu, setiap hari campurkan sedikit ramuan ini kedalam masakan ibu mertuamu dari hasil masakan kamu sendiri, kamu harus bersikap baik, menghormati dan tidak berdebat dengannya, perlakukan ia selayaknya ibumu sendiri agar saat ibu mertuamu meninggal nanti orang lain tidak akan menaruh curiga kepada kamu”.
Dengan perasaan lega dan senang, diturutinya semua petunjuk sang paman penjual obat, dilayani sang ibu mertua dengan sangat baik, penuh perhatian, setiap hari disuguhkan masakan kesukaan si ibu dan tidak terasa 4 bulan telah berlalu. Terjadi perubahan yg sangat besar, dari hari ke hari, melihat sang menantu yg bersikap penuh perhatian kepadanya, ibu mertua pun tersentuh dan berbalik mulai menyanyangi si menantu bahkan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Dia juga memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa menantunya adalah seorang yg penuh kasih dan menyayanginya.
Menyadari perubahan positif ini, sang menantu cepat-cepat datang lagi menemui sang paman penjual obat. “Tolong berikan kepada saya obat pencegah racun pembunuh ibu mertua saya. Setelah saya patuhi nasehat paman, ibu mertua saya berubah sangat baik menyayangi saya seperti anaknya sendiri.. Tolong paman,, saya tdk ingin dia mati karena racun yg telah saya berikan”. Sang paman pun tersenyum puas dan berkata “anakku, kamu tidak perlu kuatir, ramuan yg paman berikan dulu bukan racun tetapi ramuan untuk meningkatkan kesehatan. Racun yg sebenarnya adalah di dalam pikiran dan sikapmu terhadap ibu mertua dan sekarang semua racun itu telah punah oleh kasih dan perhatian yg telah kamu berikan kepadanya”.
Pembaca yg budiman, cerita di atas mengajarkan kepada kita betapa luar biasanya kekuatan kasih dan kekuatan perhatian. Kasih dan perhatian mendatangkan kepedulian, ketulusan dan kerelaan utk berkorban. Kasih dan perhatian mampu melepaskan kita dari belenggu kesalahpahaman, meluluhkan ketidakpedulian, hati yg keras dan pikiran yg penuh kebencian. Kasih dan perhatian itu mendatangkan kedamaian dan melekatkan perbedaan menjadi suatu kedekatan yg menyenangkan. Jika setiap hari kita mau memberikan kasih dan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita maka kehidupan kita pasti akan lebih bermakna dan mendatangkan kebahagiaan.
Kamis, 08 Juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
